Runyam
"Berhenti jadi egois, gen!" Bintang berteriak tepat di depan muka Genta. Dadanya naik turun, emosi memuncak mencapai ubun-ubun. Tatapan mata mereka menguat, mengisyaratkan ketakutan dan emosi. "Lo ada hak apa ngomong gini, kak?" Genta berujar lemah, ia mendudukkan dirinya pada sofa panjang berwarna biru tua. Berangkai rangkai kalimat yang berputar di otaknya tak sanggup ia keluarkan. Ribuan sumpah serapah yang ada di hatinya kini tak sanggup ia utarakan. Pikirannya ribut, penuh, dan sesak. Air mata yang ia bendung kini bocor begitu saja. Mengapa dirinya selalu menjadi seseorang paling egois di mata orang. Dirinya juga di penuhi rasa takut dan emosi yang berlebihan, terkadang akibat semua itu, ia meledak. Ada kalanya seseorang meledak secara tiba-tiba tanpa mereka sadari. Mungkin bagi orang lain itu adalah sesuatu yang aneh, mengganggu dan egois. Namun baginya, itu salah satu cara untuk membela diri sendiri.
Itulah akibat dari memendam semuanya sendirian. Terkadang seseorang butuh sandaran untuk berbagi keluh kesah agar pikirannya tak sesak. Untuk berhenti menyalahkan diri sendiri dan bersikap seolah olah semuanya membenci. Mereka butuh rangkulan dan pelukan hangat untuk menyalurkan rasa lelah yang menumpuk setiap harinya. Hal yang sederhana, namun untuk mendapatkannya saja begitu sulit bagi mereka yang kurang beruntung.
"Berhenti bersikap seolah-olah gue orang yang egois, satu hari aja. Gue mohon." Lirih, air matanya turun menderas. Kepalan tangannya menguat, entah kepada siapa dia harus mengadu. Entah kepada siapa dia harus bertumpu.
"Asal lo tau, bagi gue semuanya terlihat runyam, kak. Lo ga bakal ngerti kalau lo ga di posisi gue. Gue tau, gue salah. Tapi lo harus percaya, itu semua di luar kendali gue. Emosi gue bisa tiba tiba memuncak, dan gue bahkan gak bisa kontrol dengan baik. Orang-orang selalu menganggap kalau Genta Prasukma adalah orang dengan emosi yang meletup, orang yang mudah kesal akan sesuatu hal. Tapi gue pengen lo tau, gue terluka di sini. Gue cuman pengen satu orang tahu, kalau gue butuh sandaran di sini. Ketakutan akibat trauma gue di masa lalu ga bisa sembuh begitu aja. Semuanya perlu proses. Gue gatau sampai kapan, bisa aja sampai seumur hidup. Tapi gue butuh satu orang aja buat ngertiin posisi gue. Kenapa gue selalu jadi pihak yang jahat? Sejahat itu gue sampai-sampai banyak orang yang ngomong, kalau orang kayak gue ga pantes buat bernapas di dunia ini. Sakit, kak."
Hembusan nafas terlihat sangat berat di keluarkan oleh Genta. Kepalanya semakin menunduk, semua itu termasuk diluar kendalinya. Ia tidak sengaja mengeluarkan semua yang dipendamnya selama ini. Namun, malam ini semuanya luruh. Tak sanggup lagi untuk menahan, memupuk, mendesak, dan menikam diri sendiri, akhirnya ia muntahkan semuanya di depan Bintang Prayuga. Sebagai seorang kakak tertua dari tiga bersaudara, Bintang memiliki sifat yang keras dan perfeksionis. Bukan tanpa alasan ia memiliki itu, tapi juga akibat trauma trauma yang di hadapi. Bintang bukan orang yang kuat akibat dukungan dari seseorang, tapi akibat dukungan dari dalam diri. Semuanya berlalu tak mudah, terjangan badai membutakannya beberapa kali tersungkur dan terluka. Tapi, berdamai dengan keadaan sudah ia pilih. Semuanya membaik seiring waktu berlalu. Tapi, malam ini, ia melihat adiknya, Genta. Menangis di hadapannya dengan kalimat-kalimat yang ia bahkan tak percaya jika adiknya yang mengatakan itu. Di matanya selama ini, Genta adalah sosok yang pemarah, mudah kesal jika keinginannya tak sesuai harapan, dan egois. Di matanya, terpijar sebuah emosi yang sulit di rasakan dan di mengerti. Entah itu harapan atau kesedihan.
Bintang menyesal karena tidak pernah menjadi sandaran bagi adik-adiknya yang rapuh. Ia tidak bisa mengambil peran menjadi tumpuan sebagai seorang kakak tertua. Tidak bisa membuat ruang keluarga menjadi hangat dan penuh kasih sayang. Semuanya teguh dengan ego masing-masing.
"Kalo lo udah bisa berdamai, tapi gue ga bisa, kak. Di mata lo, mamah, papa, adek, gue cuman bocah umur 15 tahun yang sukanya marah-marah—" Bintang memeluk adiknya, berusaha memainkan perannya dengan baik sebagai seorang kakak tertua. "—dan ga bisa kontrol emosi. Di mata semua orang, gue adalah orang yang egois dan ga berhak ada di antara mereka. Fisik gue emang kelihatan kuat di luar, tapi di dalamnya, hati gue luka kak. Plester aja gak cukup buat nutupin luka gue yang udah infeksi dan bernanah. Beberapa kali gue punya teman dekat, beberapa kali juga gue di kecewakan. Mungkin, masalahnya ada di gue. Gue yang belum bisa berdamai sama keadaan busuk ini. Gue belum bisa kayak lo, gue masih butuh tumpuan. Tolong gue, Kak." Perih yang Genta rasakan seolah tersalur pada Bintang dengan pelukan itu. Pundak kanannya basah, air mata Genta menderas tanpa ia sadari. Bintang bingung harus mengatakan apa. Tangan kanannya hanya bisa mengelus punggung adiknya dengan lembut, untuk sedikit menenangkan.
Dunia ini memang adil, tidak ada orang yang merasa sakit sendirian. Semuanya juga merasakan sakit yang berbeda-beda. Keinginan untuk mengakhiri hidup pasti ada di dalam diri semua manusia. Tanpa di sadari, jika kita berdamai, semuanya berlalu. Maka dari itu, kuncinya hanya satu. Berdamailah. Berdamai dengan diri sendiri, dengan keadaan, dengan semuanya yang tidak sesuai dengan harapan. Biarkan semuanya berlalu, ajak orang terdekatmu untuk saling merangkul. Manusia makhluk sosial, saling membutuhkan. Jangan menganggap dunia ini tempat untukmu tersiksa, tapi jadikanlah dunia ini tempatmu bersinar dengan hari berat yang kamu lalui.
Komentar
Posting Komentar